close

Kisah Sahabat Nabi yang Suka Maksiat (Nu’aiman)

Sikap Nabi Terhadap Sahabat yang Suka Maksiat



Ketika sedang berada dimasjid bersama sahabat-sahabatnya, Rasulullah Saw. Kedatangan tamu, yaitu seorang laki-laki Badui dusun. Orang Badui itu menunggangi unta yang gemuk dan sehat. Sebelum masuk masjid, unta itu diikatnya disebuah pohon kurma yang agak jauh dari masjid.
Setelah memberi salam, si Badui ini langsung mendekati Rasulullah. Para sahabat menyingkir karena tampaknya si Badui ingin menyampaikan sesuatu yang sangat pribadi, yang dirasa oleh mereka tidak patut didengar secara terbuka.
Setelah berada diluar masjid, mata salah seorang sahabat tertuju pada unta si Badui. Dia mendekati Nu'aiman bin 'Amru dan berbisik kepadanya, ''Gimana kalau ente potong saja unta si Badui itu...?
Nu'aiman bin 'Amru, Sahabat Rasulullah yang dikenal paling kocak dan suka bercanda, tidak lagi berpikir panjang, dia langsung setuju usulan itu.
''Boleh,'' katanya pelan sambil melongok kedalam. ''sudah lama sekali kita tidak menikmati daging unta. Nanti kalau si Badui minta ganti rugi, kita serahin saja urusannya kepada Rasulullah. Biar beliau yang bayar,'' Kata sahabat itu memprovokasi.
''Jadi !'' kata Nu'aiman bersemangat. Tanpa buang-buang waktu, Nu'aiman segera mendekati unta si Badui. Dengan cepat dia melepas tali yang mengancang unta itu pada pohon, kemudian sambil berjingkat-jingkat dia menggiringnya kesuatu tempat yang juga tidak terlalu jauh dari masjid. Disanalah unta itu dipotong.
Rupanya, si Badui tidak terlalu lama berbicara dengan Rasulullah. Setelah hajatnya terpenuhi, dia langsung mau pulang. Tapi, dia sangat terkejut ketika melihat untanya tidak berada ditempatnya. Dia panik. Para sahabat juga panik. Mereka segera memberi isyarat kepada Nu'aiman agar segera lari.
Si Badui semakin terkejut ketika akhirnya mengetahui untanya telah dipotong orang. Dia memandang para sahabat yang diam membisu. Akhirnya, dia masuk lagi ke masjid menemui Rasulullah.
''Wahai Muhammad, unta saya dipotong orang!'' teriaknya. Mendengar namanya dipanggil, Rasulullah yang sedang khusyuk berzikir segera bangkit. Beliau mendekati si Badui.
''Unta saya dipotong, wahai Muhammad...!'' katanya sedih. Rasulullah merasa ada yang tidak beres. Beliau segera keluar dan menemui para sahabat. Semuanya terdiam. Tegang.
''Siapa yang memotong unta saudara kita ini?'' tanya Rasulullah. ''Nu'aiman, wahai Rasulullah,'' jawab mereka hampir serempak. Rasulullah geleng-geleng kepala. Beliau paham benar bahwa itu ulah Nu'aiman. Tanpa bertanya lagi, Rasulullah lalu segera mencari Nu'aiman. Dari jejak kakinya yang tertinggal dipasir, beliau tahu kemana arah Nu'aiman berlari.
Oh, rupanya Nu'aiman bersembunyi di rumah Dhiba'ah binti Zubair. Dia masuk keruang kosong dan menutupi tubuhnya dengan daun kurma. Rasulullah masuk kerumah itu, lalu memanggil Nu'aiman dan menyuruhnya keluar. Dengan takut-takut, Nu'aiman pun keluar. Rambut dan wajahnya penuh debu dan kotor sekali. Dengan tangannya yang suci, Rasulullah membersihkan wajah Nu'aiman. Lalu bertanya...
''Siapa yang menyuruhmu memotong unta si Badui?,'' tanya Rasulullah. ''mereka yang memberitahumu, wahai Rasulullah. Bahkan mereka berkata, Nanti kalau si Badui minta ganti rugi, Rasulullah yang akan membayarnya. '' Begitu wahai Rasulullah.'' jawab Nu'aiman.
Rasulullah Saw. menghela nafas sambil tersenyum. Ada-ada saja ulah sahabat-sahabatnya. Tapi beliau tidak marah. Sambil tersenyum, beliau memegang tangan Nu'aiman dan mengajaknya meninggalkan tempat itu. Nu'aiman tak sanggup melihat senyum indah di wajah Rasulullah. Pancaran cahaya kenabian membuat wajah manusia agung itu laksana matahari yang sulit ditatap secara langsung dengan mata telanjang.
Akhirnya, Rasulullah juga yang membayar ganti rugi kepada si Badui yang kehilangan untanya yang berharga.
Mungkin sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa ternyata Rasulullah, manusia agung yang paling dihormati oleh seluruh penghuni langit, masih juga dikerjain oleh sahabat-sahabatnya. Tentu saja maksud mereka bukan untuk menyusahkannya. Mereka hanya ingin menciptakan suasana gembira walaupun caranya kadang keterlaluan. Tapi, Rasulullah paham betul mana tindakan sahabatnya yang hanya main-main dan bercanda dan mana yang tidak.
Itu sebabnya, beliau tidak marah dan sering hanya tersenyum sehingga gigi beliau yang putih laksana mutiara tampak berkilauan.
Bersenda gurau adalah bagian dari kebutuhan manusia. Sehingga, Rasulullah tidak melarang sahabat-sahabatnya melakukannya, namun tentunya sepanjang waktu mereka tidak dihabiskan hanya untuk bercanda. Konon, Nu'aiman sering diminta sahabat untuk ngelawak didepan mereka. Demikianlah, mengalirlah kisah-kisah lucu dari mulut sahabat Nabi yang kocak itu. Rasulullah adalah orang yang sangat pengertian.
Dalam beberapa situasi, beliau dipanggil umatnya dengan hanya menyebut namanya, ''Muhammad'', seperti orang Badui dalam cerita tersebut. Dan dalam beberapa kesempatan, Rasulullah juga menjadi sasaran canda sahabatnya Nu'aiman. Tapi, semua tidak menurunkan atau merendahkan kemuliaannya. Candaan para sahabat yang melibatkan Rasulullah juga tidak mencederai kenabian beliau. Beliau tetap merasa santai.
Sekali lagi, senda gurau yang sesuai dengan kebutuhan hati tentulah tidak akan melalaikan kita dari mengingat Allah. Tapi, bila sepanjang waktu hanya kita gunakan untuk bergurau, bukan tidak mungkin hati kita akan menjadi mati.
Diceritakan juga dalam kitab Mizahu Rosulillah dimana cerita ini sangat Masyhur di kalangan ahli ilmu, bahwa Nu’aim adalah sahabat yang hobi mabuk/minuman keras dan mengakali Nabi. Suatu ketika pernah Mabuk di hadapan Rasulullah SAW karena memang sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Akan tetapi Nabi Muhammad dengan sikap yang Mulia dan Tegas pada akhirnya tetap menghukum sesuai syari’at Islam pada Nu’aiman. Karena perbuatan tersebut sangat tercela apalagi dilakukan di hadapan Nabi maka banyak Sahabat Nabi yang mengklaim bahwa Nu’aiman adalah orang yang tercela karena melakukan aib yang sangat fatal. Akhirnya Nabi Muhammad sediri yang membela Nu’aiman dengan mengatakan bahwa janganlah kalian mengina dan melaknat Nu’aiman (yang telah berbuat dosa) karena sesungguhnya Nu’aiman adalah orang yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Bagaimanapun orang yang berbuat dosa dan sering mabuk, sering maksiat kita tidak boleh mengklaim dan menghinakannya karena siapa tahu dalam hatinya dia sangat mencintai Allah melebihi kita dan Allah mencintai dia karena dia mencintai-Nya. Allah adalah zat yang Maha Pemaaf dan Pemberi Maaf melebihi kesalahan yang dilakukan semua makhluk-Nya. 
Semoga dengan Kisah ini kita bisa mengambil hikmah dan bersikap yang bijaksana terhadap saudara muslim kita yang masih sering melakukan maksiat, tentunya kita wajib mengingatkannya dan mendoakannya. Wallahu ‘alam bissowab
Back To Top